Kukar Mulai Budidaya Sorgum dan Jelai, Kurangi Ketergantungan Beras

Budidaya Sorgum (Foto: Ist)

RealitaKaltim.com. TENGGARONG-Upaya mengurangi ketergantungan beras, Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mengembangkan budidaya tanaman Sorgum dan Jelai sebagai salah satu komuditas pengganti beras padi.

Sebagai tahap awal aksi nyata, dua Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu dan Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang dipilih untuk memulakan proses budidaya, panen, pengemasan, hingga pemasaran. Bahkan, program budidaya Sorgum dan Jelai akan menyasar 20 kawasan bekerjasama KWT Kukar untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri pangan.

Seperti diketahui, Sorgum adalah tanaman serbaguna sebagai sumber pangan dan bahan baku industri, dan menempati urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara.

Sedangkan tanaman Jelai adalah adalah biji-bijian serealia dari keluarga rumput-rumputan (Poaceae) yang telah dikenal sebagai salah satu makanan pokok tertua di dunia. Tanaman ini menduduki peringkat keempat sebagai biji-bijian yang paling banyak dibudidayakan secara global. Kaya akan serat dan beragam nutrisi penting, jelai memiliki peran signifikan dalam sejarah manusia serta industri pangan modern.

“Kampanye Stop Boros Pangan dan slogan Kenyang Tidak Harus Nasi gencar kami lakukan. Ini gerakan masif penganekaragaman pangan lokal untuk perkuat kemandirian pangan daerah agar tidak bergantung pada beras padi sebagai komuditas pangan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kuka, Ananias kepada media ini, dua hari lalu.

Langkah strategis itu disebutkan telah masuk dalam rencana strategis (renstra) Disketapang Kukar 2025–2029, sebagai program prioritas penyediaan pangan alternatif yang sehat dan mudah dibudidayakan. Alasan dipilihnya sorgum dan jelai didasari kecocokan iklim serta kemiripan visual kedua komoditas tersebut dengan beras padi setelah diolah.

“Kukar tidak boleh tergantung pada beras padi, jika ingin mandiri pangan. Jelai merupakan pangan lokal warisan leluhur kita, sementara sorgum sangat cocok dikembangkan di tanah Kukar. Secara visual dan tekstur, setelah digiling dan dimasak, bentuknya mirip nasi dan tidak mengubah kebiasaan masyarakat yang merasa belum makan kalau belum makan nasi,” sebut Ananias.

Ananias menambahkan, dari sisi kesehatan, sorgum dan jelai memiliki keunggulan karena tinggi serat, bebas gluten, kadar gula rendah. Karena kandungan gula tanaman sorgum terkonsentrasi pada batang yang berpotensi diolah jadi pemanis alami mirip tebu.

Dari proses budidaya, sorgum dan jelai dikenal tahan banting karena tidak memerlukan lahan sawah berair khusus. Tanaman ini dapat tumbuh di pematang jalan, dan memiliki keunggulan ratoon atau sekali tanam dapat dipanen hingga tiga kali, dengan tingkat produktivitas stabil. (adv/ilm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *