RealitaKaltim.com. TENGGARONG-Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berencana mendesain ulang lantai jemur portabel atau lantai jemur yang tidak memerlukan lahan yang luas pada tahun 2027 mendatang. Evaluasi dilakukan agar fasilitas pengering hasil pertanian tersebut lebih mudah ditempatkan di berbagai kondisi lahan milik petani.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias mengatakan lantai jemur portabel merupakan inovasi yang dikembangkan melalui program dedikasi Bupati Kukar. Hingga 2026, sebanyak 104 unit telah terealisasi dari target sekitar 500 unit pada periode kepemimpinan pertama Bupati Kukar.
“Awalnya kami terkendala masalah lahan. Kalau membuat lantai jemur permanen, harus ada lahan dan hibah dari masyarakat. Karena itu, kami mencoba lantai jemur portabel sebagai solusi,” ujar Ananias baru ini.
Menurut Ananias, desain awal berukuran 4 x 24 meter dengan kapasitas sekali pengeringan sekitar 2 ton. Namun, ukuran tersebut menyulitkan petani di wilayah berbukit, karena tidak semua lokasi memiliki lahan memanjang hingga 24 meter.
Sebagai solusi, pihaknya mempertimbangkan desain berukuran 4×12 meter agar lebih fleksibel dan mudah dipindahkan. Dengan ukuran yang lebih pendek, jumlah unit yang dapat disalurkan juga berpotensi melampaui target awal 500 unit.
“Di 2027 ini kemungkinan kami coba desain ulang, jangan terlalu panjang. Mungkin dibuat 4×12 meter supaya lebih mudah bagi petani menempatkan lantai jemur,” jelasnya.
Ananias menerangkan, lantai jemur tersebut dirancang dengan konsep menyerupai ruang pengering tertutup yang mampu menahan panas. Kondisi itu diharapkan mempercepat proses pengeringan gabah dibandingkan penjemuran terbuka, sekaligus membantu menjaga kualitas hasil panen.
Penggunaannya juga berpotensi diperluas untuk komoditas lain, seperti kopi, kakao, jagung, ikan asin hingga rumput laut. Saat ini, unit yang terealisasi telah ditempatkan di sejumlah sentra produksi, antara lain Tenggarong, Loa Kulu, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu dan sebagian wilayah Anggana.
Meski masih menghadapi keterbatasan lahan dan pendanaan, Ananias mengaku tetap optimistis mengejar target. Jika anggaran APBD Kukar 2027 mengalami kendala, pihaknya akan berupaya mencari sumber pendanaan alternatif agar program tersebut dapat terus berlanjut.
“Kalau program itu baik dan memberikan manfaat, kenapa tidak kita lanjutkan. Kami akan terus berusaha memenuhi kebutuhan petani ke depannya,” pungkasnya. (adv/ilm)












