SAMARINDA – Samarinda kembali dikepung banjir setelah hujan deras mengguyur kota ini pada 29 Januari 2025. Lima kecamatan terdampak, menyebabkan 5.900 warga terpaksa berhadapan dengan genangan air yang melumpuhkan aktivitas mereka selama empat hari.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif. Salah satu solusi yang diusulkan adalah penerapan lubang biopori di setiap rumah warga.
Menurut Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Viktor Yuan, metode ini diyakini mampu mengurangi genangan air hingga 30 persen serta mengoptimalkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.
“Bila biopori diterapkan secara masif, penyerapan air hujan akan lebih baik. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi jangka pendek yang dapat diterapkan oleh masyarakat,” ungkapnya, Minggu (16/3/2025).
Selain itu, pembangunan polder atau danau retensi dinilai perlu diperluas ke wilayah-wilayah rawan banjir lainnya. Polder Pampang dan Bengkuring yang telah dibangun oleh Pemerintah Kota Samarinda mendapat apresiasi, namun perlu dilanjutkan di titik strategis lainnya untuk mengoptimalkan pengendalian banjir.
“Polder yang sudah ada harus diselesaikan secepatnya, dan proyek serupa perlu diperluas. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang,” tambahnya.
Langkah lain yang turut ditekankan adalah normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus. Viktor menyoroti bahwa pembebasan lahan di sepanjang sungai harus dilakukan dengan mekanisme yang adil agar warga terdampak mendapatkan lahan pengganti yang layak.
Pembangunan sistem kanal serta pemasangan pompa air juga diusulkan guna mempercepat aliran air menuju Sungai Mahakam, terutama di Samarinda Utara yang sering mengalami banjir parah.
Namun, infrastruktur saja tidak cukup. Faktor kebersihan lingkungan turut berperan dalam pencegahan banjir. Sampah yang menyumbat drainase kerap memperparah genangan air di kawasan permukiman. Oleh karena itu, gotong royong di tingkat RT dalam membersihkan parit dan saluran air perlu digalakkan.
“Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan. Tidak hanya pemerintah, warga juga harus aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.
Dengan kombinasi berbagai upaya ini, diharapkan permasalahan banjir di Samarinda dapat ditanggulangi secara lebih efektif di masa mendatang.
