Bontang. RealitaKaltim.com-Upaya meningkatkan pelayanan kesehatan terus diupayakan DPRD Kota Bontang, salah satunya mendorong pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam di Puskesmas Bontang Selatan I dan II. Hal itu menjadi solusi dalam pelayanan cepat bagi warga di kawasan padat penduduk, khususnya di Kelurahan Berbas Tengah dengan 16.734 jiwa tersebar di 64 RT dan Berbas Pantai dengan 10.367 jiwa tersebar di 24 RT yang menjadi cakupan wilayah layanan Puskesmas Bontang Selatan.
Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto menilai kebutuhan terhadap pelayanan UGD 24 jam sangat mendesak, mengingat letak geografis wilayah kerja Puskesmas Bontang Selatan berada jauh dari rumah sakit umum, dan kondisi lalu lintas yang rawan kecelakaan.
“Di sekitar Puskesmas ada dua simpang besar yang sering menjadi titik kecelakaan. Kalau ada UGD 24 jam, bisa langsung memberikan pertolongan pertama sebelum dirujuk ke rumah sakit,” ujar Heri baru-baru ini.
Bahkan, wilayah Kelurahan Berbas Tengah dan Berbas Pantai dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, menuntut adanya pelayanan darurat yang siaga setiap saat. Bukan hanya kecelakaan lalu lintas, penyakit berat seperti serangan jantung, stroke, atau kondisi kritis lain juga memerlukan penanganan cepat.
“Jumlah penduduk yang tinggi harus dibarengi kesiapsiagaan layanan medis. UGD 24 jam bisa jadi penyelamat nyawa,” ucapnya.
Namun, Heri juga mengaku untuk mewujudkan layanan ini, ada tantangan besar yang harus diatasi, terutama soal kekurangan tenaga medis. Hal ini terungkap dalam diskusi bersama Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Bahtiar Mabe, serta Kepala Puskesmas Bontang Selatan II, dr Livia Fitriati.
“Kami siap mengawal usulan ini agar masuk dalam pembahasan anggaran mendatang, terutama penguatan formasi tenaga kesehatan. Harapannya, layanan UGD 24 jam bisa menjadi standar minimal di wilayah yang belum terjangkau rumah sakit,” harapnya.
Upaya DPRD diharapkan menjadi dorongan bagi pemerintah kota untuk mempercepat realisasi layanan kesehatan darurat yang merata dan siap siaga untuk masyarakat yang memerlukan.
“Kalau operasional UGD sudah 24 jam, harus ada sistem ‘shift’ tenaga medis, minimal tiga kali pergantian dalam sehari. Pastinya perlu menambah SDM,” singkatnya. (*/adv)












