SAMARINDA – Pemberian beasiswa kuliah gratis bagi mahasiswa Kalimantan Timur (Kaltim) mulai dijalankan pada tahun ini dengan alokasi anggaran sebesar Rp770 miliar. Kebijakan yang mengharuskan penerima beasiswa berkuliah di dalam provinsi menjadi salah satu aspek yang diperbincangkan, terutama karena jenjang magister (S2) masih memerlukan banyak pilihan di luar daerah.
Menanggapi hal ini, program tersebut dinilai masih berada dalam tahap awal sehingga berbagai keterbatasan dianggap wajar. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, yang menyatakan bahwa penyempurnaan kebijakan akan dilakukan seiring berjalannya waktu.
“Karena program ini baru, tentu pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Saya yakin ada alasan kuat di balik kebijakan ini, termasuk keterbatasan anggaran yang masih menjadi pertimbangan utama,” ungkapnya, Sabtu (15/3/2025).
Ditegaskan olehnya bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan perguruan tinggi di Kaltim mampu menerapkan skema beasiswa ini secara efektif. Jika program ini berhasil di tahap awal, maka cakupannya berpotensi diperluas hingga ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.
“Ke depannya, pemerintah mungkin akan mempertimbangkan skema beasiswa untuk mahasiswa Kaltim yang berkuliah di luar daerah. Janji Gubernur untuk memberikan akses pendidikan gratis kepada seluruh masyarakat Kaltim harus diwujudkan secara bertahap,” tambahnya.
Meski begitu, evaluasi rutin tetap diperlukan agar kebijakan ini dapat terus berkembang sesuai kebutuhan mahasiswa. Pemerintah diharapkan tidak hanya mempertahankan program ini, tetapi juga melakukan penyesuaian agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak penerima.
Dengan adanya beasiswa ini, kemajuan pendidikan di Kaltim diharapkan semakin pesat sehingga dapat mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.












